Zionis: Iran Tunjukkan Israel Tak Lagi Mampu Paksakan Aturan Perang
Media Ibrani dan para analis Israel mengatakan serangan rudal Iran mengungkap kemerosotan daya tangkal Israel dan mengakhiri kemampuan Tel Aviv untuk mengendalikan eskalasi secara sepihak.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Kalangan politik, militer, dan media Israel mengakui bahwa serangan rudal terbaru Iran ke Palestina yang diduduki menunjukkan bahwa Tel Aviv tidak lagi mampu secara sepihak memaksakan aturan keterlibatan dan konfrontasi di kawasan.
Penilaian tersebut muncul setelah Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah pendudukan sebagai respons atas pemboman Beirut Selatan oleh Israel, yang sebelumnya telah diperingatkan Tehran sebagai tindakan yang melampaui garis merah.
Menurut media berbahasa Ibrani, respons Iran telah meningkatkan kekhawatiran di kalangan pejabat dan masyarakat Israel mengenai efektivitas strategi lama Israel yang selama ini mengandalkan kekuatan untuk memaksakan kehendak politik dan militernya.
Para pengamat politik dan keamanan juga mengkritik sikap diam pemerintah Israel setelah serangan Iran tersebut.
Itamar Eichner, analis politik dari Yedioth Ahronoth, menyatakan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberikan respons yang jelas terhadap perkembangan terbaru. Ia juga menyoroti bahwa Menteri Perang Israel, Israel Katz, yang dikenal sering mengeluarkan pernyataan publik, juga belum memberikan tanggapan.
Eichner menilai sikap tersebut mencerminkan krisis yang lebih luas di dalam pemerintahan Netanyahu, dengan meningkatnya kekacauan administratif dan absennya pesan publik yang terkoordinasi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Israel Tidak Lagi Mampu Memaksakan Aturan Secara Sepihak
Perdebatan semakin menguat setelah kolumnis terkemuka harian Maariv, Ben Caspit, berpendapat bahwa Israel telah kehilangan kemampuannya untuk secara sepihak menentukan aturan konfrontasi.
“Israel tidak lagi mampu memaksakan aturan keterlibatan secara sepihak,” tulis Caspit, seraya menambahkan bahwa mereka yang mendukung serangan ke Beirut Selatan seharusnya tidak terkejut dengan respons Iran.
“Faktanya, Israel melakukan serangan dan menerima balasannya,” katanya.
Caspit juga mengakui apa yang ia gambarkan sebagai menurunnya dominasi regional Israel. Menurutnya, respons cepat Tehran terhadap pemboman Beirut Selatan menunjukkan bahwa Israel tidak lagi memiliki kendali eksklusif atas dinamika eskalasi kawasan.
Mantan penasihat keamanan nasional Israel, Tzachi Hanegbi, juga menyatakan bahwa kepemimpinan Iran beroperasi berdasarkan doktrin yang menolak penyerahan diri dan mengandalkan keteguhan strategis.
Menurut Hanegbi, para pemimpin Iran menyimpulkan bahwa ancaman yang dikeluarkan Washington kemungkinan besar tidak akan sepenuhnya diterapkan di kawasan, sehingga memungkinkan Tehran membentuk persamaan baru yang menghubungkan serangan terhadap Beirut Selatan dengan pembalasan langsung jauh di dalam wilayah Israel.
Laporan Ungkap Meningkatnya Ketegangan antara Washington dan Tel Aviv
Para pengamat Israel juga menyoroti meningkatnya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv selama krisis berlangsung.
Jurnalis Barak Ravid mengatakan kepada Channel 12 Israel bahwa Amerika Serikat memiliki hak veto efektif terhadap keputusan Israel untuk meningkatkan eskalasi.
Ravid mengutip pernyataan yang dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dilaporkan meminta Netanyahu agar tidak melakukan pembalasan lebih lanjut setelah pertukaran serangan antara kedua pihak.
Analis militer Avi Ashkenazi menulis di Maariv bahwa Trump secara terbuka menekan Netanyahu dan mengisyaratkan bahwa Washington tetap menjadi pengambil keputusan utama terkait eskalasi.
Laporan-laporan tersebut memicu kembali kritik di dalam Israel mengenai tingkat ketergantungan negara itu terhadap dukungan politik dan militer Amerika Serikat.
Haaretz: Iran Menepati Ancamannya
Harian Haaretz melaporkan bahwa Tehran telah merealisasikan peringatannya bahwa setiap serangan Israel terhadap Beirut Selatan akan memicu respons langsung.
Analis militer Amos Harel menulis bahwa meskipun kesepahaman gencatan senjata sejak April sebagian besar telah mencegah pertukaran serangan langsung antara Iran dan Israel, Netanyahu tetap berupaya mencari jalan untuk memicu kembali konfrontasi.
Menurut Harel, serangan rudal Iran secara langsung terkait dengan tindakan Israel di Lebanon dan mencerminkan meningkatnya kepercayaan diri Tehran dalam memengaruhi perhitungan strategis kawasan di tengah berlangsungnya pembahasan diplomatik.
Netanyahu Dikatakan Mengejar Kelangsungan Politik Pribadi
Eskalasi terbaru juga kembali memunculkan kritik terhadap Netanyahu dari media-media Israel sendiri.
Kolumnis Maariv, Dan Perry, menggambarkan serangan terhadap Beirut Selatan sebagai tindakan yang tidak efektif secara strategis dan menuduh Netanyahu sengaja mendorong eskalasi demi kepentingan politik domestiknya.
Perry berpendapat bahwa sementara Trump menginginkan stabilitas kawasan, Netanyahu membutuhkan krisis yang berkelanjutan untuk memperbaiki posisinya di tengah merosotnya dukungan dalam jajak pendapat.
Ia menyebut pemerintah Israel sengaja mempertahankan masyarakat dalam kondisi ketidakamanan permanen sambil memprioritaskan kelangsungan politik dibanding kepentingan strategis jangka panjang.
Perry juga menyindir klaim resmi mengenai kemandirian Israel. Menurutnya, tanpa senjata Amerika, perlindungan diplomatik, dan hak veto Washington, Israel akan kesulitan mempertahankan konfrontasi militer yang berkepanjangan.
Persamaan Daya Tangkal Baru Muncul
Di berbagai spektrum media Israel, para komentator pada umumnya sepakat bahwa respons Iran terhadap pemboman Beirut Selatan telah menciptakan persamaan daya tangkal baru yang didasarkan pada pembalasan langsung dan timbal balik.
Media-media berbahasa Ibrani menyimpulkan bahwa serangan tersebut mengungkap dilema struktural yang lebih dalam yang dihadapi elit politik dan militer Israel: apakah sepenuhnya mengikuti arahan Amerika Serikat atau melanjutkan eskalasi militer dengan risiko strategis yang semakin besar.
Diskusi yang berkembang menunjukkan semakin kuatnya pengakuan di kalangan analis Israel bahwa respons Iran telah mengguncang asumsi lama mengenai kebebasan bertindak Israel dan menunjukkan bahwa konfrontasi di masa mendatang semakin berpotensi memicu pembalasan langsung dan segera. (FG)


